Untitled

Kepada kamu, pria domba.. yaa,, domba yang kurindu untuk segera musnah

Pertemuan kesekian kalinya, pertemuan kali ini sangat tidak sama seperti pertemuan yang lalu-lalu. Lidahku terlalu kelu untuk untuk bergerak menggetarkan pita suara, alhasil tiada suara yang keluar dari bibirku. Hanya desahan angin yang dengan sempurna memainkan petik harmoni di sekitarku dan dia. Kita sama-sama terdiam, walaupun dalam hatiku sudah berkecamuk tanda bahwa begitu banyak kumpulan kata-kata yang ingin aku sampaikan. Sesuatu yang kita sebut jarak telah menyatukan kita peda satu titik temu ini, dan perpisahan yang meleburkan keajaiban rahasia Ilahi.

Untukmu, pria yang saat ini terpisah ratusan kilometer..

Masih ingatkah kamu ketika usiaku beranjak 23 tahun? Apakah saat-saat itu masih menjadi tanggal yang begitu spesial untuk kita berdua? Setelah tak hanya jarak fisik yang memisahkan kita. Dengan nakalnya otak ku bertanya, apakah kau merasakan bahwa hidumu jauh lebih baik saat kondisi saat ini? Apakah hari-harimu masih berjalan dengan normal? Aku tak menuntutmu untuk menjawab jika pertaanku justru melemparmu ke masa yang sudah berlalu. Seperti perkataanku dulu, bahwa aku tak akan menyakitimu dengan tanganku, dan tidak akan menyia-nyiakanmu, apapun hasil akhri dari hubungan kita.

Akhir-akhir ini, aku begitu tidak mau tau bagaimana kabarmu, bagaimana keseharianmu dan pekerjaanmu. Karena tak begitu penting hal itu kulakukan. Aku sudah melindungimu dalam kenangan, merindukanmu dalam pikiran, bahkan mengalirimu hari-harimu dengan do’a, namun kini sudah tak pantas kesemuanya itu kulakukan. Kejujuran hatiku mulai terkuak, ketidakpantasan itu menimbulkan keanehan dalam diriku yang memunculkan kepercayaan bahwa rindu selalu punya jalan pulang. Jalan itu ada dihatimu, menggebu dalam nafasmu, merasuk melalui vena di nadimu. Jujuru menenggelamkan kemunafikanku. Nyatanya aku (masih) merindukanmu.

Satu-satunya hal yang selalu kurindukan, adalah senyummu,.
senyum masa lalu kita..

Iklan