a taste of long distance relationship

Saat-saat kebersamaan yang beriringan terletak pada dua jarak yang berbeda. Nyaris tidak ada kebahagiaan dalam perbedaan jarak ini. Jarak ratusan kilometer ini telah membuat jemariku tak mampu menyentuh lekukan wajahmu, membuat tatapan mataku tak mampu meraih sinar matamu. Sejauh ini hati kita masih saling menggenggam, genggaman untuk mempertahankan bayangan cinta.

Dalam jarak sejauh ini, mungkinkah kita masih saling mendoakan? Seperti saat kita berdekatan. Aku tak lagi peduli saat-saat dingin mencekam, kamu tak duduk disampingku, juga tak mendekapmu dengan hangat. Aku tak lagi mengerti, saat air mataku terjatuh, hanya ada tanganku (bukan tanganmu) yang menghapus basah di pipiku. Jelaskan padaku, apa yang selama ini membuatku masih ingin bertahan?

Aku hanya bisa menatapmu dalam imajinasiku, diam-diam merapal namamu dalam doa. Mendengar bisikan rasa sayangmu dari ujung telepon. Kulakukan semua seakan baik-baik saja, seakan aku tak terluka, seakan tak ada air mata; aku begitu meyakinkanmu, bahwa tak ada yang salah diantara kita. Dan, apakah disana kau memang baik-baik saja? Apakah rindu yang kita simpan dalam-dalam akan menemukan titik temu?

Sayang, aku lelah.

Datanglah