Rindu

23288914


Setiap perjalanan selalu disertai oleh pertanyaan-pertanyaan.

Kisah ini adalah tentang pertanyaan-pertanyaan tersebut. Ada lima pertanyaan yang dibawa oleh lima penumpang dalam kapal Blitar Holland.

 Sayangnya, lazimnya sebuah pertanyaan, maka tidak otomatis selalu ada jawabannya. Terkadang, tidak ada jawabannya. Pun penjelasannya. (hal. 222).


Judul                  : Rindu

Penulis              : Tere Liye

Penerbit            : Republika

Tebal                 : 544 hal

Terbit                : Oktober 2014


Berlatar belakang dari umh.. mulai membeli buku ini bulan desember tahun lalu, dan baru me-resensinya sekarang? *dari situ saya merasa lapar* :p . Novel Tere Liye kali ini sangat fantastis ketika diawal desember lalu saya membeli novel ini, ternyata sudah mengalami tujuh kali cetak ulang! Cetak ulangnya tujuh kali di bulan kedua pemirsa, yang kemudian denger-denger, di akhir desembernya udah sepuluh kali cetak ulang! Bayangkan, padahal novel ini rilis sekitar bulan Oktober. Luar biasa sekali Bang Tere ini.. ^_^

 Okey, penjelasan akan saya awali dengan siapa Tere Liye?

Tere Liye, adalah salah satu novelis produktif tanah air. Lebih dari sekadar produktif, novel-novelnya juga selalu membawa kebaruan, pencerahan, dan kualitas yang tak diragukan. Tak heran, jika novel-novelnya kerap meraih best-seller, dan beberapa judul telah pun diangkat ke layar kaca maupun layar lebar.

Kali ini, Tere Liye mengangkat sebuah kisah berlatar waktu tahun 1938, berawal dari berlabuhnya sebuah kapal uap bernama Blitar Holland milik perusahaan Belanda di pelabuhan Makassar, dengan tujuan mengangkut para calon jemaah haji menuju tanah suci. Perjalanan menunaikan rukun Islam kelima pada masa-masa itu, bukanlah sebuah perjalanan yang bisa ditempuh dalam waktu yang singkat. Dalam perjalanan yang memakan waktu berbulan-bulan tersebut, menyinggahi beberapa dermaga dan negara, ikut serta para tokoh sentral dalam novel ini : Ambo Uleng, Ahmad Karaeng, Daeng Andipati, Bonda Upe dan juga Mbah Kakung Slamet. Dari kelima tokoh inilah, lima pertanyaan besar akan terlontar. Pertanyaan-pertanyaan itu, adalah refleksi batin dari peristiwa yang mereka alami dan membayangi perasaan mereka dengan kegelisahan kronis : jejak masa lalu, kebencian yang kesumat, kehilangan belahan jiwa, cinta sejati, dan juga….kemunafikan. Kisah yang sangat hebat.

Setidaknya, ada beberapa elemen positif yang dimiliki novel ini dan berkontribusi pada keunggulannya, yaitu :

  1. Deskripsi setting (latar)

Tak diragukan lagi, Tere Liye adalah seorang pencerita yang piawai. Deskripsi akan mekanisme kapal uap, suasana di dalam kapal dan kota-kota yang disinggahi, berhasil memvisualisasikan situasi pada masa itu menjadi begitu nyata dan meyakinkan. Kondisi kapal haji pada tahun 1938 dari Pelabuhan Makassar dapat beliau jabarkan dengan jelas dan lugas.

 Apalagi, cerita berlatar perjalanan dengan menggunakan alat transportasi laut masih terhitung langka dalam khasanah fiksi tanah air. Tak pelak lagi, novel ini berhasil mengenalkan sebuah “dunia” baru dalam benak pembaca meski latar waktu yang dipergunakan adalah masa lampau.

  1. Karakter

Seperti juga novel-novel Tere lainnya, kekuatan karakter menjadi kelebihannya yang cukup menonjol. Tere tak pelit menceritakan latar belakang setiap tokoh utamanya, mengembangkan karakter mereka dalam dialog, adegan dan narasi, hingga pembaca bisa dengan mudah memahami perasaan, pikiran dan pandangan para tokoh tersebut. Bahkan visualisasi tokoh tersebut masih tertinggal di dalam benak meski proses membaca novelnya telah usai.

Tere juga rajin menghadirkan banyak tokoh pembantu dengan tetap memberi porsi karakter yang pas serta berkontribusi terhadap jalinan cerita. Atau dengan kata lain, tak ada tokoh sampingan yang eksistensinya hanya sekadar tempelan.

 Seperti di dalam novel ini, pembaca boleh jadi akan dibuat terpesona dengan sosok Ambo Uleng, sang pemuda Bugis yang pendiam, berpendirian teguh, berhati baik dan memiliki fisik serta mental yang kokoh. Atau terhibur dengan kehadiran Anna dan Elsa, dua bocah perempuan anak Daeng Andipati yang ditampilkan Tere sebagai bocah-bocah cerdas, usil dan periang. Atau juga gusar setengah mati dengan Sergeant Lucas yang mewakili karakter angkuh penjajah kompeni. Atau pun merasa hormat dengan sosok ulama Ahmad Karaeng yang di dalam novel ini kerap dipanggil gurutta.

  1. Cerita yang “bernyawa”

Bagi penggemar acara-acara kompetisi menyanyi di layar kaca, tentu tak asing lagi dengan komentar yang paling sering dilontarkan dewan juri terhadap performa kontestan yang tak hanya mampu bernyanyi dengan baik tetapi juga berhasil menyentuh perasaan.

Begitu pulalah halnya yang terjadi dalam novel ini. Tak sedikit adegan yang memancing keharuan bahkan air mata, meski Tere hanya sesekali menyelipkan kalimat-kalimat puitis untuk menggambarkan konflik batin para tokohnya. Tere lebih cenderung pada deskripsi dan narasi yang panjang dan denotatif. Namun saya yakin Tere tak alpa melibatkan perasaan dan emosi yang optimal saat menuliskannya, sehingga dengan teknik penceritaan yang tergolong general pun, sudah mampu memberi “nyawa” dan emosional yang kuat pada jalinan ceritanya.

  1. Pesan moral

Inilah ciri yang melekat pada setiap novel Tere, yaitu bertabur dengan pesan moral dan kebaikan. Dan Tere, adalah penulis yang menyampaikan pesannya dengan cara meleburkannya dalam karakter dan perjalanan hidup para tokohnya juga dengan cara menasehati secara langsung. Untuk cara pertama, Tere selalu menampilkan tokoh utama dengan karakter idealis yang layak diteladani namun tetap memberinya kekurangan, sehingga penokohannya pun terasa nyata.

Siapa menduga, dibalik sosok pendiam dan teguh Ambo Uleng, tersimpan sepotong hati yang nyaris luluh lantak oleh cinta yang tak kesampaian?

Siapa mengira, dibalik kesuksesan Daeng Andipati, tersimpan dendam dan kebencian yang begitu dalam terhadap sosok yang semestinya dicintai dan dihormati?

Dan siapa menyangka, bahwa dibalik kelembutan sosok Bonda Upe, tersimpan jejak masa lalu yang sedemikian kelam?

Dari pertentangan-pertentangan inilah, Tere menampilkan konflik batin para tokohnya, untuk kemudian membawa mereka (dan juga pembaca) pada pesan moral yang disampaikan dengan cara kedua, yaitu menasehati secara langsung.

 Untuk cara kedua ini, biasanya dilakukan Tere lewat tokoh cerita yang memang punya kapasitas untuk melakukannya. Seperti dalam novel ini, maka sang tokoh penasehat itu adalah Ahmad Karaeng atau gurutta, yang memang digambarkan sebagai seorang ulama dan penulis yang masyhur di Makassar.

 Cara ini bukannya tanpa resiko. Sudah tak diragukan lagi, kalangan kritikus, penulis dan pembaca dengan jam terbang tinggi, menganggap “show don’t tell” adalah kriteria yang “wajib” dimiliki seorang penulis dalam penyampaian pesan, dan sebaliknya, cara menasehati, menggurui dan berkhotbah, bukanlah cara penyampaian yang dianggap matang dan terampil.

Sementara di lain sisi, bagi kalangan pembaca awam, cara menasehati dengan menyampaikan secara langsung terbukti masih bisa diterima. Masih terdapat golongan pembaca yang lebih suka untuk “digurui” dengan makna harfiah ketimbang memikirkan pesan-pesan yang disampaikan dengan cara tidak langsung, atau melalui retorika dan perumpamaan.

Agaknya, Tere menyadari benar bahwa pembaca novel-novelnya berasal dari kalangan yang beragam, dan kalangan pembaca awamlah yang menempati jumlah terbesar. Sehingga Tere pun memilih jalan tengah dengan tetap menggunakan kedua cara tersebut untuk menyampaikan amanat ceritanya secara terang dan jelas.

 Sebuah novel yang baik – buat saya – adalah novel yang mampu memperkaya pikiran dengan informasi dan pengetahuan baru, memperkaya jiwa dengan nilai-nilai perenungan dan inspirasi, juga memperkaya pemahaman terhadap makna hidup. Dan novel ini, saya akui, mampu melakukannya dengan nyaris sempurna.

 Kebencian, kehilangan, cinta sejati, kemunafikan dan dosa masa lalu. Kita mungkin pernah mengalami satu, dua, tiga atau bahkan kelima hal tersebut dalam hidup, dan saat ini masih terus menghantui hidup kita tak ubahnya bayang-bayang.

Kisah ini, boleh jadi adalah refleksi dari segelintir perjalanan hidup kita. Kisah yang akan menggiring pada perenungan, bahwa semua pertanyaan yang dihadirkan Tuhan dalam hidup, pada hakikatnya adalah bukti kasih sayangNya, “mendidik” hambaNya untuk berjuang menemukan jawaban, dan perjuangan itulah yang akan me-metamorfosis sang hamba menjadi lebih baik. Inilah sesungguhnya rahmat dan “hadiah” dariNya, yang jauh lebih bermakna ketimbang hadirnya jawaban itu sendiri.

Sebagai penutup, seperti biasa saya kutipkan beberapa Quotes menarik dalam Novel ini:

“Cara terbaik menghadapi masa lalu adalah dengan dihadapi. Berdiri gagah. Mulailah dengan damai menerima masa lalumu. Buat apa dilawan? Dilupakan? Itu sudah menjadi bagian dari hidup kita. Peluk semua kisah itu. Berikan dia tempat terbaik dalam hidupmu. Itulah cara terbaik mengatasinya. Dengan kau menerimanya, perlahan-lahan dia akan memudar sendiri. Disiram oleh waktu, dipoles oleh kenangan baru yang lebih bahagia. Apakah mudah melakukannya? Itu sulit. Tapi bukan berarti mustahil.”

“Tidak selalu orang lari dari sesuatu karena ketakutan atau ancaman. Kita juga bisa pergi karena kebencian, kesedihan, ataupun karena harapan.”

 “Lepaskanlah. Maka besok lusa, jika dia cinta sejatimu, dia pasti akan kembali dengan cara mengagumkan. Ada saja takdir hebat yang tercipta untuk kita. Jika dia tidak kembali, maka sederhana jadinya, itu bukan cinta sejatimu. Hei, kisah-kisah cinta di dalam buku itu, di dongeng-dongeng cinta, atau hikayat orang tua, itu semua ada penulisnya. Tetapi kisah cinta kau, siapa penulisnya? Allah. Penulisnya adalah pemilik cerita paling sempurna di muka bumi. Tidakkah sedikit saja kau mau meyakini bahwa kisah kau pastilah yang terbaik yang dituliskan.”

 “Berhenti lari dari kenyataan hidupmu. Berhenti cemas atas penilaian orang lain, dan mulailah berbuat baik sebanyak mungkin.”

“Karena Allah menjanjikan barang siapa yang menutup aib saudaranya, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Itu janji yang hebat sekali. Kalaupun ada saudara kita yang tetap membahasnya, mengungkitnya, kita tidak perlu berkecil hati. Abaikan saja. Dia melakukan itu karena ilmunya dangkal. Doakan saja semoga besok lusa dia paham.”

 “Saat kita tertawa, hanya kitalah yang tahu persis apakah tawa itu bahagia atau tidak. Boleh jadi, kita sedang tertawa dalam seluruh kesedihan. Orang lain hanya melihat wajah. Saat kita menangis pun sama, hanya kita yang tahu persis apakah tangisan itu sedih atau tidak. Boleh jadi kita sedang menangis dalam seluruh kebahagiaan. Orang lain hanya melihat luar.”

“Kita keliru sekali jika lari dari sebuah kenyataan hidup. Sungguh, kalau kau berusaha lari dari kenyataan itu, kau hanya menyulitkan diri sendiri. Ketahuilah semakin keras kau berlari, maka semakin kuat cengkeramannya. Semakin kencang kau berteriak melawan, maka semakin kencang pula gemanya memantul, memantul, dan memantul memenuhi kepala.”

 “Apakah cinta sejati itu? Maka jawabannya, dalam kasus kau ini, cinta sejati adalah melepaskan. Semakin sejati perasaan itu, maka semakin tulus kau melepaskannya…Aku tahu kau akan protes, bagaimana mungkin? Kita bilang cinta itu sejati, tapi kita justru melepaskannya? Tapi inilah rumus terbalik yang tidak pernah dipahami oleh pecinta. Mereka tidak pernah mau mencoba memahami penjelasannya.”

 “Tidak perlu janji. Insya Allah sudah lebih dari cukup, Nak. Karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok lusa.”

 “Enam puluh tahun kami menikah. Dua belas anak. Tentu saja ada banyak pertengkaran. Kadang merajuk diam-diaman satu sama lain. Cemburu. Salah-paham. Tapi kami berhasil melaluinya. Dan inilah puncak perjalanan cinta kami. Aku berjanji padanya saat menikah, besok lusa, kami akan naik haji. Kami memang bukan keluarga kaya dan terpandang. Maka itu, akan kukumpulkan uang, sen demi sen. Tidak peduli berapa puluh tahun, pasti cukup…Pagi ini, kami sudah berada di atas kapal haji. Pendengaranku memang sudah berkurang. Mataku sudah tidak awas lagi. Tapi kami akan naik haji bersama. Menatap Ka’bah bersama. Itu akan kami lakukan sebelum maut menjemput. Bukti cinta kami yang besar.”

 Sungguh, sebenarnya masih sangat banyak sekali Qoutes menarik serta pertanyaan dan jawaban tentang kehidupan yang harus diketahui. Hanya ada satu cara untuk menemukannya, yaitu dengan membaca novel ini. Barangkali satu, dua, atau kelima jawaban tersebut, adalah juga jawaban yang anda cari-cari selama ini, untuk menuntaskan pertanyaan besar yang masih menggelisahkan jiwa anda hingga hari ini. Dan.. sampai jumpa pada resensi selanjutnya…

🙂

Iklan