Hidup sekali, Berarti, Lalu Mati

15789473

Judul buku      : Hidup Sekali, Berarti, Lalu mati

Penulis             : Ahmad Rifa’i Rif’an

Penerbit           : PT Elex Media Komputindo

Tahun              : 7 Agustus 2012

ISBN               : 978-602-00-3102-6

Tebal               : 224 halaman


 

Testimoni :

 “Hidup menjadi lebih berarti jika ‘nilai rapor’ diisi tinggi oleh orang di sekitar yang merasakan kehadiran pemilik rapor. Buku ini menjelaskan dan mengajak semua untuk memberi arti pada hidup. Baca dan rasakan hawa bahagia yang terus-menerus datang saat untaian contoh dalam buku ini dilakoni.”                       _DR. Ponijan Liaw, Komunikator No. 1 Indonesia

“Buku karya sahabat saya ini ‘Hidup Sekali, Berarti, Lalu Mati’ adalah solusi agar hidup tidak hanya hidup tapi hidup untuk kehidupan, Lets make a life not just a living!”

                _Ryan Martian, Penulis Buku Best Seller Funtastic Learning, Trainer dan Konsultan SDM

Sinopsis :

Berawal ketika ada rasa iseng mengisi waktu nganggur buat jalan-jalan ke Togamas, yang awalnya tidak ada keingingan untuk membeli buku, Cuma main-main baca-baca :p. Tiba-tiba pandangan mata langsung focus ke salah satu buku berwarna putih, berjudul “Hidup Sekali, Berarti, lalu Mati” setelah membuka isi dan sedikit membaca random halaman-halaman dalamnya, ternyata bagus. Yang tanpa rasa galau lagi langsung membeli buku ini.

Buku ini enak dibaca. Penulis berhasil menarik simpati orang yang memegang buku ini untuk membacanya secara tuntas. Sebab, kalimat-kalimat yang disusun oleh penulis selalu sukses menyentuh emosi yang paling dalam. Buku ini dibagi dalam tiga bab besar yaitu Hidup Sekali, Berarti, Lalu Mati. Dalam setiap bab penulis selalu mengajak pembaca untuk  menghargai anugerah kehidupan ini dengan bersyukur, menemukan jati diri sendiri, terus berjuang menggapai apa yang diimpikan dan tidak pantang menyerah dan optimis.

Dari bab pertama, kita diarahkan tentang kehidupan, bersyukur dan terus beristiqomah atas kehidupan yang telah kita jalani. Salah satu contohnya yang diambil penulis dalam bab ini ialah kehidupan burung elang. Penulis mencontohkan bagaimana burung elang bisa bertahan hidup sampai 70 tahun. Di mana elang pada usianya yang ke-40 tahun harus mematuk paruhnya yang sudah sangat panjang ke batu karang sampai terlepas dari mulutnya. Ia kemudian  berdiam beberapa lama hingga paruh baru muncul.

Dari bab kedua, pembaca dirahakan bagaimana menjadi makhluk dapat memberikan manfaat dan saling bertoleransi yang merupakan wujud kasih saying untuk sesama. Ya, yang tentunya juga sebagai bekal di akhirat nanti. Disini penulis memberikan suatu contoh yang menyayat hati, konon cerita ini berasal dari Jepang. Pernah ada tradisi membuang anggota keluarga yang sudah renta, yang tidak berdaya, dan sudah tidak bisa menghasilkan apa-apa ke tengah hutan. Suatu hari, ada seorang pemuda yang akan membuang ibunya yang sudah tua, jompo, dan mulai pikun, sehingga dianggap merepotkan sang anak tadi. Pemuda itupin menggendong ibunya yang tak berdaya itu ke tengah hutan. Sepanjang perjalanan ke tengah hutan, sang ibu memetik ranting-ranting yang kering dan dijatuhkan ke tanah. Ketika tibah ditengah hutan yang lebat, pemuda itu sedih akan mengucapkan kata-kata perpisahan kepada ibunya. Justru ibunya yang merasa tegar dan menenangkan sang anak. “nak, aku sangat menyayangimu, hingga saat ini tak berkurang sedikitpun rasa itu. Tadi sepanjang perjalanan, aku sudah menandai jalan yang kita lewati dengan ranting-ranting pohon. Ibu takut kau tersesat nanti saat pulang. Sekarang, ikutilah tanda itu agar kau selamat sampai rumah.” Mendengar kalimat itu, lantas si pemuda menangis sesenggukan sambil memeluk ibunya untuk dibawa kembali kerumah. Pemuda itupun dengan ikhlas merawat sang ibu hingga akhri usianya.

Bab ketiga, membahas tentang kematian. Dalam bab ini pembaca benar-benar diingatkan bahwa semua mahluk pasti akan mati. Mengingatkan agar kehidupan tidak berjalan sia-sia hingga ajal menjemput. Seperti yang diungkapkan oleh Emha Ainun Najib yang dikutip dalam buku ini “Jika mewahnya dunia masih terasa besar bagimu dan menguasai ruang hatimu, berarti kau masih belum memiliki kebesaran dan kemerdekaan sejati.”_halaman 154

Sebagai penutup, salah satu “tips” dari buku ini untuk pembacanya dalam menuju maqam cinta kepada Illahi, adalah dengan jalan mengikuti apapun yang dihalalkan Allah dan menjauhi apa yang diharamkanNya. Selamat membaca 🙂

Iklan