Lima perilaku keren Chairil Anwar

chairil-anwar

Chairil adalah seorang penyair yang cukup fenomenal. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, dia dinobatkan oleh HB Jassin sebagai pelopor Angkatan 45 dan pelopor puisi modern Indonesia. Penyair yang juga dikenal sebagai “Si Binatang Jalang” ini dibesarkan di Medan. Saat berusia 19 tahun, seusai perceraian orangtuanya, Chairil bersama ibunya pindah ke Jakarta. Semenjak di Jakarta itulah Chairil mulai menggeluti dunia sastra. Setelah memublikasikan puisi pertamanya pada tahun 1942, Chairil terus menulis. Pusinya menyangkut berbagai tema, mulai dari pemberontakan, kematian, individualisme, dan eksistensialisme. Chairil meninggal pada usia 27 tahun, setelah sebelumnya (menurut dugaan banyak orang) mengidap penyakit TBC.

Di bawah ini memuat lima poin penting dari keseharian Chairil Anwar yang kurang lebih bisa menginspirasi kita untuk menjadi berperilaku sekeren beliau tidak hanya dalam tulisan, tapi juga dalam tindakan.

  1. Sang Pelahap Buku

Asrul sani bertemu Chairil Anwar pertama kali di sebuah toko buku. Saat itu ia melihat mata Chairil Anwar sangat merah. Ia menduga Chairil seorang pelahap buku. Benar saja, saat ia menegurnya, Chairil menjawab, “Kau suka baca juga, ya? Kau suka sajak? Mana sajakmu?”Asrul Sani memberikan sajaknya dan saat itu mereka bersahabat.

Soal mata Chairil Anwar yang merah karena suka melahap buku ini bukan hanya disampaikan oleh Asrul Sani saja, melainkan juga oleh Sri Ayati. Pujaan hati Chairil yang jadi inspirasinya saat menulis puisi “Senja di Pelabuhan Kecil” dan “Hampa” itu mengungkapkan sosok Chairil, “Rambutnya acak-acakan. Matanya merah, karena kurang tidur. Di tangan kiri dan kanannya penuh buku-buku. Memang Chairil dikenal sebagai kutu buku.”

Chairil Anwar sangat beruntung karena pamannya, mantan Perdana Menteri Republik Indonesia Sutan Syahrir, punya banyak buku termasuk buku-buku sastra mutakhir. Dari buku-buku milik pamannya itulah, Chairil berkenalan dengan sastrawan dunia, seperti Slauerhorff, Marsman, Teer Brak, dan lain-lain. Selain buku-buku sastra, Chairil juga suka baca buku tentang kesenian, seperti seni lukis.

Kebiasaannya melahap buku membuat pengetahuannya tentang sastra dunia jadi luas. Kebiasaan ini yang laya k dicontoh, utamanya untuk penulis pemula, jangan pandang genre, penulis, dan penerbitnya, karena yang terpenting adalah bacalah, maka kau akan mendobrak isi dunia.

  1. Sayang Ibunya

Chairil Anwar sayang sekali dengan ibunya. Meski usianya sudah dua puluhan tahun, ia sering bersikap seperti anak manja kepada ibunya. Suatu hari, ia dan Asrul Sani datang ke sebuah pesta yang diadakan oleh temannya tanpa diundang. Temannya itu tidak senang dengan kehadiran mereka. Chairil dan Asrul pergi dari tempat itu setelah mereka mengambil sebatang cerutu besar. Ibunya suka sekali cerutu dan ia ingin mengantarkan cerutu itu kepada ibunya sebagai hadiah.

Waktu ayahnya menikah lagi, ibunya memutuskan untuk meninggalkan ayahnya ke Jakarta dan memilih hidup susah. Chairil Anwar yang menyayangi ibunya itu menyusul ibunya ke Jakarta. Ayahnya membujuk Chairil untuk kembali ke Medan dan tinggal bersama bapaknya. Namun, Chairil menolak. Asrul Sani mengatakan, puisi “Aku” karya Chairil yang terkenal itu adalah penolakan Chairil terhadap bujukan bapaknya itu.

  1. Seorang Pengingat yang luar biasa

Kalau karet busa dicelupkan dalam air, apa yang terjadi? Karet busa akan menyerap air dengan cepat. Begitulah ingatan Chairil Anwar. Ia cepat sekali menyerap puisi-puisi yang dibacanya. Hanya perlu beberapa menit saja membaca, ia langsung hafal puisi-puisi yang dibacanya. Jadi, jangan heran kalau dalam puisi-puisinya bisa ditemukan unsur-unsur puisi penyair lain. Asrul Sani mengatakan, “Sebab dia ibarat kutu buku yang kena racun.”

  1. Poliglot Keren yang Cuma Lulusan SMP

Chairil Anwar hanya menempuh pendidikan sampai bangku MULO atau sekolah menengah pertama di zaman Belanda. Meski begitu, ia mampu menguasai bahasa Belanda, bahasa Inggris, dan bahasa Jerman secara aktif. Kegemaran Chairil membaca karya-karya sastra dunia membuat dirinya semakin mahir menggunakan ketiga bahasa itu. Kemahirannya itu yang di kemudian hari mengantarkanya menjadi penerjemah karya-karya sastrawan dunia karya Andre Gide, John Steinbeck, Ernest Hemingway, Hendrik Marsman, dan masih banyak lagi.

5. Penggemar Olahraga Keren yang Pantang Menyerah

Waktu masih tinggal di Medan,H.B. Jassin sering melihat Chairil Anwar main pingpong dan badminton. Saat main pingpong atau badminton, Chairil selalu berteriak-teriak dan bersorak-sorak. Dalam setiap permainan, dia selalu ingin menang dan harus dia yang keluar jadi pemenangnya. Setelah dia dipukul Jassin pun, teman-temannya sering melihat Chairil berlatih angkat besi di Taman Siswa. Katanya, “Gue pukul si Jassin itu!” Namun, saat Chairil bertemu dengan Jassin, ia tidak terlihat marah.

Sifat pantang menyerahnya ini sangat luarbiasa, pun ketika dia sangat stabil dalam pengendalian emosi.

 

 

 

 

 

Iklan