Cerita cinta Rama dan Shinta

J

Tokoh legenda ini mungkin sudah pernah bahkan sering sekali kita dengar, tak asing bukan? Namun, tidak semua orang tau detail cerita mereka. Tidak semua orang tau bahwa topik utama dalam perjalanan cinta mereka bukan terletak pada perjuangan perebutan hati Sang Shinta, juga bukan pada bagian akhir yang bahagia. Bukan itu. Topik utama dalam cerita ini terletak pada pertengahan kisah cinta mereka dalam kepercayaan yang berakhir tragis dalam hubungan mereka. Ya, berakhir tragis.

Siapa yang tidak mengenal Rama, pangeran gagah kerajaan Kosala. Ia tampan tak terkira. Ia pintar tiada dua. Dan jangan Tanya soal kepribadiannya, Rama adalah pemuda tiada tandingan. Semua orang akan terpesona hanya dengan menatap wajahnya. Lantas siapa yang tidak mengenal Shinta, gadis rupawan, kerajaan Wideha? Ia cantik tak terperi. Ia pintar tiada tanding. Dan jangan tanya soal budi pekertinya, Shinta adalah gadis yang tumbuh dalam asuhan luhur. Semua orang bahkan terpesona hanya dengan mendengar bisik-bisik bagaimana jelita rupanya. Mereka berdua seperti ditakdirkan menjadi pasangan abadi, Rama-Shinta, dan sudah abadilah cinta mereka.

Permulaan perjodohan itu bermula ketika pemuda gagah itu, Rama, sedang dalam misis berbahaya, menumpas para raksasa dihutan rimba saat terbetik kabar, Raja Wideha mengadakan sayembara. Gadisnya yang rupawan sudah cukup usia, bagai bunga mekar, sudah saatnya menikah dengan salah satu pangeran terbaik diseluruh India. Maka demi kabar besar itu, berduyun-duyunlah semua kerajaan mengirimkan pangeran mereka.

“kau harus ikut serta, Kakanda.” Laksamana, asik Rama yang setia menemani merwka berpetualang menumpas raksasa membujuk.

“Astaga, kau ingin kakakmu ini mendapatkan jodoh melalui sayembara? Itu jelas bukan awal kisah cinta sejati, tidak aka nada Resi yang pernah menulisnya.” Rama menggeleng.

“Setidaknya Kakanda bersedia melihati dulu putri itu. Menurut kabar, wangi kulitnya semerbak hingga ratusan meter. Matanya mampu meruntuhkan dinding kesombongan. Dan hatinya, bahkan bisa menakhlukkan senjata paling hebat dunia.” Laksamana mengedipkan mata, tidak habis akal membujuk, “setelah dilihat, nanti baru Kakanda putuskan sendiri apakan akan menulis kisah sejati dari sebuah sayembara atau bukan.”

Rama menatap adiknya, tidak percaya, bagaimana mungkin di tengah mengejar-ngejar taksasa pengganggu penduduk, mereka membicarakan sayembara bodoh itu.

“Ayolah, apa salahnya dicoba bukan?” Laksamana tertawa.

Baiklah seperti apa omong kosong kecantikan gadis itu, Rama mendengus. Memasang busur dan anak panah di punggung. Melupakan sebentar misi petualangan mereka. Berputar haluan, berangkat menuju Ibu Kota Wideha.

Ketika seluruh pangeran sudah berkumpul di balai agung ibu kota Wideha, Rama yang tiba terlambat justru salah memasuki ruangan. Sebuah kesalahan yang memantik nyala perasaan berpijar-pijar. Bagaimana mungkin ia sungguh tidak terpesona oleh betapa cantiknya Shinta? Kabar itu bukan dusta. Dan ia pun terpesona saat melihat gadis itu sedang membantu dayang-dayang yang tidak sengaja menumpahkan nampan berisi buah-buahan.

“Tidak usah dipikirkan, tidak usah dicemaskan.” Merdu suara gadis itu menenangkan dayang-dayang. Membungkuk membantu mengambil buah yang berserakan. Sama sekali tidak keberatan membuat selendangnya berdebu.

“Maafkan Kami, Putri.” Dayang-dayang semakin merasa bersalah, bagaimana mungkin Shinta yang hari ini akan mengadakan sayembara mencari suami, jutru berhenti sejenak membantu mereka.

Rama yang tertegun menatap gadis yang riang membantu dayang-dayangnya, mencengkram tangan Laksamana di sampingnya tanpa sengaja.

“Siapa gadis itu?” Rama berbisik.

Shinta lebih dulu menoleh. Dayang-dayang yang berseru pelan, kaget ada laki-laki memasuki bangunan khusus perempuan.

“Maaf, sungguh maafkan kami.” Rama mengangkat tangannya menyadari kekeliruan, “kami sedikitpun tidak bermaksud buruk. Kami tidak sengaja. Kami salah masuk ruangan.”

Shinta menatap sejenak wajah pemuda di hadapannya. Memeriksa wajah serba salah, serba tanggung, dan ketahuan baru saja terpesona melihat dirinya. Ah,pemuda ini pastilah pengembara, Shinta Tersenyum manis. Pemuda gagah ini pastilah salah satu petualang yang telah mengelilingi dunia. Seperti banyak pengunjung lainnya, ikut hadir dalam meramaikan ibu kota menonton sayembara besar.

Sayembara itu mudah sekaligus rumit. Mereka hanya diminta menarik busur, pusaka kerajaan Wideha. Busur itu sungguh bukan busur biasa, itu busur milik Dewa Siwa yang dihadiahkan ke bumi. Jangankan menarik talinya, menarik busur itu saja tidak banyak yang mampu. Singkatnya, dalam bagian ini Rama lah yang memenangkan sayembara. Jika seluruh pangeran tidak mampu menarik busur itu, kenapa Rama yang mampu? Rama adalah ksatria hebat. Ia dikenal mampu menakhlukkan banyak raksasa di zaman itu, tapi itu tetaplah busur hadiah Dewa Siwa, senjata paling mengetarkan diseluruh daratan India. Jika satu anak panahnya terhujam ke bumi, konon, dunia akan merekah bahai sebitur jeruk yang terbelah. Entah kekuatan apa, boleh jadi karena keuatan cinta.

Lihatlah, disebelah kursi singgahsana, Shinta tersipu malu. Ikut bersorak senang saat melihat Rama berhasil menarik tali busur. Mereka berjodoh, sayembara telah berakhir. Pernikahan Rama dan Shinta segera dilangsungkan. Lepas pernikahan, pasangan muda itu kembali ke Ayodya, ibukota kerajaan Kosala. Bukan main, senang alang kepalang Raja Kosala melihat anaknya telah memperistri seorang bidadari. Raja Kosala yang uzur, bahkan hendak mengangkat Rama menjadi raja.

Apalagi yang kurang? Masa depan kerajaan akan gemilang di tangan putra sulungnya tersebut. Tetapi ada yang tidak senang dengan rencana tersebut. Ibu tiri Rama, istri muda Raja Kosala, merasa anaknya, Barata, lebih berhak menjadi raa. Nasib malang menimpa pasangan muda tersebut. Melalui sebuah intrik yang licik, Rama dan Shinta justru terusir dari ayodya. Mereka dibuang ke hutan rimba selama empat belas tahun. Barata, adik tiri Rama menjadi naik tahta. Raja kosala yang menyesali situasi meninggal dalam kesedihan mendalam.

Apa yang dilakukan Shinta atas semua pendritaan itu? Ia tidak pergi. Ia justru menabahkan hati, meneguhkan cinta, berangkat menemani Rama terbuang dari segala kehormatannya. Bagi Shinta, semua urusan sederhana, kemanapun Rama pergi, ia akan terus mengabdi. Itulah bukti cintanya yang tiada tara. Maka terusirlah Rama dan Shinta, dengan ditemani Laksamana yang sejak kecil selalu menemani kakaknya.

Empat belas tahun bukanlah waktu yang singkat. Tinggal di dalam hutan juga bukan merupakan masalah yang mudah bagi pasangan itu. Mereka diuji oleh berbagai godaan. Diuji oleh berbagai rintangan. Tidak terhitung begitu banyak raksasa hutan yang selama ini diburu Rama hendak membalaskan hati. Dan puncaknya saat Rahwana, Raja Alengka, berniat menculik Shinta yang jelita.

Ya, Rahwana yang merupakan raja dari para raksasa. Kesaktiannya tiada tara. Tidak ada penduduk bumi yang bisa mengalahkan Rahwana. Bahkan raja raksasa itu pernah meneror kerajaan langit, membuat para dewa harus bersatu memaksanya mundur kembali ke bumi. Tidak ada yang bisa menghentikan kesewenangan Rahwana.

Untuk kelicikan tiada taranya, ia berhasil menculik Shinta. Maka, dari bagian inilah cerita mahsyur ini bermula. Petualangan Rama dalam merebut Shinta yang tidak mudah. Shinta di bawa terbang pergi ke kerajaan Alengka yang berada di seberang lautan daratan India. Namun, perjuangan perlahan nan pasti itupun akhirnya berbuah manis. Dimana Rahwana tumbang ke bumi dengan sebuah panah sakti Rama yang menancap di dadanya. Sinta berhasil direbut kembali. Disinilah letak permasalahannya, cerita pentingnya justru dimulai persis saat pasangan abadi itu kembali ke Ayodya. Tentang kepercayaan. Tentang salah satu fondasi dasar sebuah cinta.

***

Permulaan dari bagian penting ini adalah ketika Rama gelisah, gelisah akan kepercayaan kepada Shinta yang tiba-tiba memudar nyaris musnah.

“berbulan-bulan.” Rama mendesah mencurahkan isi hatinya kepada laksamana, “karena berbulan-bulan itulah laksamana. Siapa yang tahu apa yang telah terjadi di Alengka? Siapa yang bisa memastikannya?”

“tidak.” Laksamana menggeleng kencang-kencang. Seperti berusaha mengusir kalimat Rama barusan jauh-jauh, “aku tidak percaya kalimat itu keluar dai mulutmu, kakanda.”

Ditambah dengan bisik-bisik kotor kabar burung dari penduduk kerajaan: Shinta sudah tak suci lagi. Berbulan-bulan ditawan Rahwana, siapa yang bisa memastikan Shinta tetap mampu menjaga diri? Rahwana adalah raksasa licik yang sakti, ia bisa menipu siapa saja bukan?

Sehingga memunculkan ide Rama akan mengadakan ujian kesucian. Melewati api yang berkobar tinggi. Jika Shinta selamat melaluinya, maka tidak akan ada keraguan lagi.

“bukan, sungguh bukan karena ingin mendengarkan penduduk Ayodya ujian kesucian ini dilakukan, ujian ini dilakukan hanya untuk menutup resah di hati kakanda. Besok, Shinta akan berhasil melewati kobaran api itu, tapi kakanda tidak akan pernah berhasil memedamkan keresahan itu.” Laksamana membungkuk, izin pamit, melangkah pelan menuju pintu ruangan. Punggungnya hilang di antara helaan nafas Rama.

***

Ujian kesucian itu dilakukan di halaman istana, ditonton puluhan ribu penduduk Ayodya. Shinta melangkah keluar dari istana. Mengenakan pakaian dan selendang berwarna putih. Wajahnya terlihat jelita tanpa riasan sedikitpun, rambutnya terurai panjang, dan halaman istana diterpa semerbak wangi yang belum pernah dicium banyak orang.

Resi-resi istana memulai prosesi. Sebuah kidung dinyanyikan. Puja-puji kepada seorang putri yang akan membuktikan diri.

Dusta tak akan bercampur dengan jujur

Hina takkan bercampur dengan mulia

Oh, minyak takkan pernah menyatu dengan air

 

Kebaikan takkan bercampur dengan keburukan

Kesetiaan takkan bercampur dengan pengkhianatan

Oh, Dewi Shinta takkan pernah menyatu dengan gadis hina

Setelah lagu itu habis membungkus khidmat, Shinta melangkah mantap menuju kobaran api yang menyala tinggi. Penduduk berseru jerih, beberapa pingsan saat tidak tahan menonton saat tubuh Shinta ditelan api tersebut. Resi-resi berseru lirih.

Laksamana benar. Satu menit berlalu, Shinta melangkah anggun keluar dari kobaran api. Lihatlah, bahkan api tidak kuasa membakar seujung kuku pakaian yang dikenakan Shinta. Gagap gempita memenuhi lapangan istana, Rama menghela napas lega, ikut berseru riang. Tetapi cinta auh dari selesai.

Hanya berbilang bulan, sejak prosesi api suci, bisik-bisik kabar burung kembali berhembus. Mereka berkata bahwa prosesi api suci itu adalah dusta, dimana Shinta memiliki ilmu sihir sehingga dengan mudah mampu melewatinya. Yang membuat ladang kepercayaan Rama terbakar hangus olehnya. Tak tersisa. Sehinga muncul keputusan kedua setelah prosesi api suci ialah dengan melakukan masa pembuangan ke hutan sorang diri. Duhai, kemanakah cinta mereka selama ini?empat belas tahun Shinta menemani Rama terusir dari Ayodya, membuktikan pengabdiannya. Berbulan-bulan Shinta tidak sekalipun lalai membisikkan Rama di penjara Asoka, berharap suami tercintanya tiba, merebutnya kembali.

Shinta itu diusir dari Ayodya. Keputusan itu dibacakan sendiri oleh Rama, di hadapan rakyat banyak yang gegap gempita menyambutnya. Lihat, rajanya sungguh bijaksana, bahkan istrinya sendiri, jika diragukan kesucian, akan terbuang dari istana. Lihat, ini sungguh mengharukan.

Bagaimana Shinta mendengar perintah pengusiran itu dibacakan sendiri oleh suaminya? Shinta mengangguk, kali ini ia memang tidak kuasa menahan kesedihan hati. Matanya berkaca-kaca, tapi ia mengangguk patuh. Shinta tidak sedih karena keputusan itu. Ia sedikitpun tidak pernah meragukan cinta Rama. Shinta sedih karena ia tidak kunjung mampu meyakinkan rakyat Ayodya, Shinta sedih harus berpisah dengan suami tercinta.

Sendirian Shinta dilepas menuju hutan rimba meninggalkan Ibu Kota Ayodya. Melangkah pelan menuju barisan rapat pohin-pohon di hutan rimba.menjalani ujian sepuluh tahun terbuang. Tanpa seorang pun sempat tahu, bahkan Rama, bahwa Shinta sedang mengandung anak mereka.

***

Singkat cerita, ketika Shinta sendiri menapaki hutan rimba dengan penuh ketakutan, datanglah seorang Resi yang tidak sengaja melintas di hutan tersebut. Adalah resi Walmiki yang menyelamatkannya. Seorang resi yang paling arif dan bijaksana di zaman itu membawa serta Shinta dalam perjalanan pulang ke padepokan bersama murid-muridnya. Di padepokan inilah Shinta melahirkan dan membesarkan kedua putra kembarnya, putra dari buah cintanya bersama Rama.

Tepat sepuluh tahun kemudian, Shinta dengan sabar menanti sang Rama datang menjemputnya. Duhai, amat menyedihkan melihat Shinta berdiri termangu sepanjang hari menunggu kedatangan Rama. Lebih tepatnya menunggu ketidak-datangan Rama. Apakah Rama masih mencinta Shinta? Ya, tentu saja. Cinta itu sama besarnya sejak mereka pertama kali bertemu dulu. Tetapi, cinta tanpa disertai kepercayaan, maka ibarat sebuah meja yang kehilangan tiga dari empat kaki-kakinya, runtuh menyakitkan.

Satu hari berlalu. Satu minggu. Satu bulan. Hingga kini sudah satu tahun Shinta mulai putus asa menatap gerbang penampungan. Hingga dua putra kembar mereka ikut sedih menyaksikan ibunya setahun terakhir termenung sendiri menahan air mata. Persis ketika usia mereka beranjak dua belas tahun, Lawa dan Kusa menemukan catatan milik Resi Waliki, syair Rama dan Shinta.

Yang kemudian rumitlah urusan. Dengan penuh kebencian, tanpa sepengetahuan Resi dan Shinta, berangkatlah kedua anak kembar yang hebat ini ke menghancurkan ibu kota Ayodya, tepat ketika mereka berdiri di depan halaman istana untuk menghabisi Rama.

Shinta menaiki seekor kuda. Ditemani oleh Resi Waliki mencegah keributan itu. Naas, kedua putranya terlanjur memetik kebencian mendalam di hati mereka. Tak bisa dihindari.  “Shinta? Kau kah itu?” Rama balas berseru kepada Shinta. “lepaskan kami ibu!” lawa dan kusa berteriak, menghindari pelukan ibunya. “jangan nak, sungguh jangan! Dia ayah kalian, nak.”

“tidak!” Lawa dan Kusa berteriak. “dia bukan ayah kami!” dengan Lantang Kusa berteriak menunjuk Rama. “Istriku, siapa mereka istriku?” Rama bertanya kepada Shinta yang kini sudah basah dengan air mata. “mereka anak-anakmu, paduka raja.” Jawab resi Waliki.

Sungguh hal ini terjadi lagi, rakyat Ayodya dengan ramai menyahut bahwa tidak mungkin mereka anak Rama sementara Shinta diasingkan sudah lebih dari sepuluh tahun. Duhai, terbakarlah telinga Rama untuk kesekian kalinya. Menghanguskan kepercayaan dalam hatinya, menggelindas tanpa ampun cintanya yang suci.

Apalah arti cinta jika tanpa sebuah kepercayaan?

Semua ini tidak akan pernah berakhir. Semua ini hanya mengulur-ulur waktu, dan terjebak atas harapan kosong. Sia-sia saja ia berharap Rama akan kembali mencintainya seperti dulu. Tidak ada lgi cinta itu.

Sebelum semua orang menyadarinya, Shinta menciumi kedua anak kembarnya untuk terakhir kali. Berlinang air mata. Lantas melepas pelukan. Berlari menjauh dari Rama dan kerumunan orang-orang sambil berseru-seru, “oh ibu… oh ibu pertiwi, dengarkan anakmu! Dengarkan anakmu!” Shinta memanggil keadilan.

Resi Waliki yang bijak menelan ludah. Ia tahu sekali apa yang akan dilakukan Shinta. Itulah bukti tertinggi paling maksimal.

“oh ibu, belahlah tanahmu, belahlah perutmu!” Shinta berlari kakinya tertekuk sudah. Ia tak peduli. Rama yang menyadari apa yang hendak dilakukan Shinta terbang dengan segala pesonanya. Shinta tersungkur dengan tangannya yang mencabik-cabik tanah. Debu mengepul berterbangan. Rama sudah amat dekat, sudah tak kuasa lari lagi.

“oh ibu, bukalah pintumu! Buktikan keseluruh semesta, jika anakmu ini emmang ternoda, maka tolaklah diriku yang hina ini. Lemparkan aku kembali ke langit tanpa nyawa. Tapi jika aku memang suci, terimalah anakmu kembali. Aku sungguh tidak kuat lagi.”

“jangan lakukan,” Rama berlutut di depan Shinta, akhirnya ia paham, melihat Shinta yang siap melakukan pengorbanan itu, “Jangan lakukan Shinta, demi aku, demi anak kita.”

Tetapi, kesadaran itu sudah amat lambat, Shinta bersiap melakukan Proseso pembuktian paling tinggi.

“ibu,, bukalah pintumu…. Ibu pertiwi, aku mohon”

“dengarkan aku Shinta, maafkan aku.. maafkan aku yang tidak mempercayaimu.” Tangan Rama berusaha menggapai rambut beruban Shinta yang sekarang kotor oleh debu.

Sejengkal lagi, tangan Rama berhasil menahan Shinta. Bumi lebih dulu merekah. Sempurna sudah terbelah. Shinta berurai air mata, tak terpikir langsung melompat.

Rama terkesiap. Tangannya menggapai kosong. Hendak mengejar, terlambat. Rekahan mengang itu kembali merapat dalam sekejap. Berdebum membuat kepulan tinggi.

Hening. Hening.

***

Saat itu juga, dengan sigap Rhama berdiri gagah menarik busur pusaka nya, hadiah dewa Siwa. Sejuta Guntur menggelegar, langit kelam, “wahai ibu pertiwi, keluarkan Shintaku! Atau kululuh lantakkan tubuhmu.” Seperti kabar sebelumnya bahwa dari Busur itu, siapapun bisa membelah bumi seperti buah jeruk yang terbelah merekah dengan panahnya yang ditujukan ke bumi.

Sayangnya, Rama tak pernah tau akan sebuah rahasia kekuatan busur itu. Kecil saja, busur itu sejatinya milik Shinta, dan bia ditarik oleh orang yang diinginkan oleh shinta. Itula kenapa dulu Rama memenangkan sayembara perjodohan dengan Shinta. Karena Shinta mencintainya dan menginginkannya menjadi suaminya. Dengan busur itulah Rama mampu mengalahkan Rahwana dan membuat kerajaan kodala disegani diseluruh daratan India. Karena Shinta menginginkannya.

Shinta telah ditarik kebumi. Tidak ada lagi yang merestui busur itu. Tarikan Rama oleh busur itu mengendur. Bahkan saat ini Rhama sudah tidak bisa mengangkatnya lagi. Rama jatuh tertunduk. Mengais-ngais tempat rekahan yang baru saja menelan tubuh istrinya. Rama berseru-seru memanggil, memohon. Ia sungguh menyesal. Ia sungguh ingin minta maaf. Tapi semuanya sudah terlambat. Kepercayaan atas cinta yang sesungguhnya ia pertahankan, ia kuatkan. Justru ia bakar habis, menyisakan abu cinta penyesalan yang menjadi kisah cinta penuh air mata abadi hingga abad-abad setelahnya. Kisah cinta yang akan terukir amat sempurna jikalau curiga terhadap cinta itu sirna.

Iklan