Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

8343444

Novel ini dirilis tahun 2010. Dan saya membacanya di tahun 2014.
Oke anda nilai sendiri betapa terlambatanya saya. :p

Seperti biasa bukan Tere Liye apabila isi dari novelnya tidak mengandung makna mendalam kehidupan (percintaan).. apapun itu hasil akhirnya, tetep bisa banget diambil hikmah alur ceritanya.

Cerita ini bermula dari kisah anak jalanan kakak beradik yang disaat susahnya kehidupan setelah 3 tahun sepeninggal ayahnya bertemu dengan sosok malaikat dalam keluarga mereka. Sosok malaikat penyelamat yang merubah kehidupan keluarga kecil ini benar-benar menjadi keluarga yang bahagia paling tidak lebih layak dari kehidupan sebelumnya.

Singkat cerita si gadis jatuh hati pada sosok malaikat tersebut. Sosok malaikat yang umurnya saja sudah selisih empat belas tahun. Dimana sosok malaikat tersebut juga terlalu naïf untuk mengakui, dan membiarkan rasa cintanya kepada gadis kecil tersebut tumbuh liar. Hingga pada akhirnya masing-masing dari mereka menyembunyikan rasa cintanya sampai sosok malaikat tersebut menikah. Petak umpet rasa cinta mereka justru terbongkar ketika istri dari sosok malaikat tersebut hamil empat bulan.

Disinilah makna judul itu terungkap, seperti biasa tepat di akhir cerita novel ini. Nangis juga ujung-ujungnya. 😥

emang sengaja terdapat kata berulang (baca: sosok malaikat) yang berfungsi sebagai pencegah spoiler dan pengundang rasa penasaran untuk membaca bukunya langsung! 😛

***

“Kita engga pernah tau apa yang akan terjadi esok lusa”

“Kebaikan itu seperti pesawat terbang, Tania. Jendela-jendela bergetar, layar teve bergoyang, telepon genggam terinduksi saat pesawat itu lewat. Kebaikan merambat tanpa mengenal batas. Bagai garpu tala yang beresonansi, kebaikan menyebar dengan tepat.”

“Kau membunuh setiap pucuk perasaan itu, tumbuh satu langsung kau pangkas, bersemi satu langsung kau injak, menyeruak satu langsung kau cabut.
…dan tunas-tunasperasaanmu tak bisa kau pangkas lagi. Semakin kau tikam, dia tumbuh dua kali lipatnya.semakin kau injak, helai daun barunya semakin banyak.”

“Bahwa hidup harus menerima… penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti… pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami… pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, dan pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan.”

***

Jadi, tidak ada alasan untuk melewatkan buku ini begitu saja bukan.. 🙂

Iklan